Sumpah Dan Permasalahannya


Sumpah seakan-akan menjadi kebiasaan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat kita pada hari ini. Kadang-kadang sumpah ini menjadi satu permainan, gurauan, sebagai mempertahankan diri dan sebagainya. Tetapi kesedaran masyarakat terhadap sumpah ini begitu kurang dan tidak memahaminya dengan baik sehingga mengangap sumpah itu sesuatu yang biasa dan ringan. Sedangkan kesilapan dalam menggunakan sumpah akan membawa kepada dosa besar. Ini sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah saw.
عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال  : جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال يا رسول الله ما الكبائر ؟ -فذلك الحديث وفيه- قال ( اليمين الغموس ) . قلت وما اليمين الغموس ؟ قال ( الذي يقتطع مال امرئ مسلم هو فيها كاذب )
Maksudnya: Dari Abdullah bin Umar r.a., ia berkata: “Seorang Arab Baduwi menemui Nabi saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah apakah dosa-dosa besar itu? – perawi melanjutkan hadis dan didalamnya disebutkan- “Sumpah palsu”. Dalam hadis itu aku bertanya: “Apakah itu sumpah palsu? Beliau bersabda: “Sumpah yang digunakan untuk mengambil harta orang muslim, padahal ia bohong.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu di dalam Islam memandang serius akan masalah ini sehingga terdapat hampir semua di dalam kitab-kitab yang membincangkan masalah fiqh, malah terdapat banyak di dalam Al-Quran dan Hadis Rasulullah saw. Dalam nukilan ini hanya memetik sedikit dari semua perbincangan yang berkaitan dengan sumpah seperti jenis sumpah, hukum sumpah, denda orang yang melanggar sumpah, syarat dan beberapa permasalahan yang rasa perlu untuk dikonsi.

Difinisi Sumpah
Sumpah dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata “aiman” yang secara semenatik artinya: adalah tangan. Tapi kemudian dipergunakan secara terminologis untuk sumpah, sebab setiap kali mereka mengucapkan sumpah, mereka memegang tangan kanan temanya.[1]
Dalam Fiqh Sunnah karangan Sayyib Sabiq mendifinisikan sumpah adalah kata dari aiman (sumpah) merupakan bentuk plural dari kata yamin yang berarti tangan kanan dan anonim tangan kiri. Sumpah dinamakan dengan yamin kerana ketika orang-orang Arab melakukan sumpah, mereka saling memegang tangan kanan satu sama lain. Ada juga yang mengatakan bahwa kata yamin dipergunakan untuk sumpah kerana ia menjaga sesuatu sebagaimana pernjagaan yang dilakukan oleh tangan kanan.[2]
Yamin (sumpah) ditinjau dari sisi syara’ adalah penguatan dan penegasan sesuatu dengan menyebut nama Allah swt. atau salah satu dari sifat-sifat-Nya. Pengertian yang lain adalah akad yang dengannya orang bersumpah menguatkan tekadnya untuk melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Kata Yamin, ila, dan half memiliki makna yang sama, yaitu sumpah.[3]

Syarat dan Rukun Sumpah
            Dalam bersumpah terdapat beberapa syarat, yaitu akal, baliqh, beragama Islam, disertai kemampuan untuk melaksanakan sumpahnya, dan kebebasan berkehendak. (Fiqh Sunnah). Apabila seseorang bersumpah dalam keadaan terpaksa, maka sumpahnya tidak sah. Sementara rukun sumpah adalah kalimat yang digunakan saat mengucapkan sumpah.
            Manakala keadaan sumpah pula terbagi kepada dua, iaitu:
                                i.            Orang yang bersumpah melaksanakan apa yang telah disumpahkannya sehingga dia dapat bebas dari sumpahnya.
                              ii.            Bila orang bersangkutan tidak melaksanakan apa yang telah disumpahkannya, maka dia harus membayar kafarat.

Jenis Sumpah
Para ulama’ membagi sumpah itu dalam tiga macam iaitu sumpah sia-sia, sumpah sungguh-sungguh, dan sumpah palsu.
                                                                    i.            Sumpah sia-sia.
Yaitu sumpah yang tidak menanggung konsekuensi hukum, misalnya seorang mengatakan: “Tidak, demi Allah. Ya. Demi Allah”. Demikian, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dari Nabi saw.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa yang dimaksudkan sia-sianya sumpah, yaitu engkau bersumpah atas suatu perkara, tetapi kenyataanya tidak demikian. Atau dengan kata lain, atas dasar keyakinannya bahwa urusan itu betul lalu ia bersumpah, tetapi kenyataannya tidak demikian.

                                                                  ii.            Sumpah sungguh-sungguh
Yaitu seseorang bersumpah akan mengerjakan suatu perkara atau tidak akan mengerjakannya, kemudian dilanggarnya. Sumpah yang dilanggar seperti ini mewajibkan membayar kaffarat, dengan penjelasannya seperti tersebut dalam ayat.

                                                                iii.            Sumpah Palsu
Yaitu seorang dengan sengaja bersumpah dusta. Misalnya ia mengatakan: “Demi Allah aku tidak berbuat begitu”, padahal dia sebenarnya dia betul-betul berbuat. Atau “demi Allah aku telah berbuat begitu”’ padahal dia betul-betul tidak berbuat. Sumpah seperti ini disebut “ghumus” (terbenam), kerana kelak di hari kiamat orangnya akan dibenamkan di jahannam. Dan ini termasuk dosa yang sangat besar, lebih besar daripada kufur, karana dengan begitu berarti ia terang-terangan menghina kebesaran Allah.[4]
Daraquthni meriwayatkan dalam Sunannya, dari ‘Alqamah, dari Abdullah, ia berkata: “Ada empat sumpah, yang dua kufur sedang yang dua lagi tidak sampai kufur. Adapun dua yang kufur, yaitu seorang bersumpah: demi Allah aku tidak akan berbuat begini dan begitu! Padahal dia betul-betul berbuat; dan seorang yang bersumpah: demi Allah aku sungguh-sungguh akan berbuat begini dan begitu! Padahal dia berbuat yang lain; dan seseorang yang bersumpah: Sungguh aku telah berbuat begini dan begitu! Padahal dia tidak berbuat”.
Dalam hadis lain memberi perumpamaan orang berdusta dala sumpahnya, seperti yang diriwayatka oleh Baihaqi bemaksud “Sumpah orang yang berdusta itu umpama meruntuhkan rumah-rumah di padang pasir” adalah sumpah yang dimurkai oleh Allah swt dan merupakan salah satu dosa besar dan dimurkai oleh Allah.
Hukuman pembatalan sumpah (Kafarat Sumpah).
Kata kafarat merupakan bentuk hiperbola dari kata kufr yang berarti penutup. Maksudnya, adalah perbuatan-perbuatan yang dapat menghapus dan menutupi beberapa dosa sehingga dosa-dosa ini tidak meninggalkan sisa yang dengannya seseorang dapat dihukum di dunia atau di akhirat.[5]
Pembatalan sumpah wajib kifarat kerana kaffarah dapat menghapuskan sumpah yang sah. Kafarat juga berperanan sebagai penebus atas sumpahnya untuk memperbaikinya dan tidak dibalas di akhirat nanti. Di dalam Al-Quran Menerangkan kafarat sumpah di dalam Surah Al-Ma’idah :
Maksudnya: Kamu tidak dikira salah oleh Allah tentang sumpah-sumpah kamu yang tidak disengajakan (untuk bersumpah), akan tetapi kamu dikira salah olehNya Dengan sebab sumpah yang sengaja kamu buat Dengan bersungguh-sungguh. maka bayaran dendanya ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari jenis makanan yang sederhana yang kamu (biasa) berikan kepada keluarga kamu, atau memberi pakaian untuk mereka, atau memerdekakan seorang hamba. kemudian sesiapa yang tidak dapat (menunaikan denda yang tersebut), maka hendaklah ia berpuasa tiga hari. yang demikian itu ialah denda penebus sumpah kamu apabila kamu bersumpah. dan jagalah - peliharalah sumpah kamu. Demikianlah Allah menerangkan kepada kamu ayat-ayatNya (hukum-hukum ugamanya) supaya kamu bersyukur. (Al-Maidah : 89)
Dalam ayat ini menerangkan empat Jenis kafarat bagi yang melanggar dan membatalkan sumpahnya, iaitu:
                                                                    i.            Memberi makan orang miskin
Menurut Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair dan ‘Ikrimah, yaitu pertengahan dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu. Sementara ‘Atha’ al-Khurasani, mengatakan maksudnya dari makanan terbaik sebagaimana yang kamu berikan kepada keluargamu.[6]
                                                                  ii.            Memberi Pakaian Orang Miskin
Setiap sesuatu yang bisa disebut dengan pakaian, bisa dijadikan sebagai pembayaran kafarat. Paling tidak, barang tersebut biasa dipakai oleh orang miskin karena ayat ini menjelaskan tentang hal ini tidak membatasinya dengan jenis pertengahan atau jenis yang biasa dipakai oleh keluarga.[7] Ibnu Kathir pula mengatakan memberi pakaian yaitu memberi masing-masing dari mereka berupa pakaian yang sah dipakai untuk solat, jika yang diberi pakaian itu pria atau wanita, masing-masing menurut standarnya.[8]
                                                                iii.            Memerdekakan hamba
Menurut Abu Hanifah, Abu Tsaur, dan Ibnu Mundzir, hamba yang dimerdekakan boleh orang kafir berdasarkan kemutlakan ayat. Sementara Imam Syafi’i, Ibnu Kathir dan mayoritas ulama mensyaratkan hamba yang beriman sebagaimana termaktub dalam hadits Mu’awiayah bin al-Hakam as-Sulami yang disebutkan dalam Muwaththa’, Musnad Asy-Syafi’i dan Shahiih Muslim, ia menyebutkan bahwa ia berkewajiban membebaskan budak beriman. Akan tetapi pada masa sekarang hamba tidak lagi ada.
                                                                iv.            Berpuasa jika tidak mampu.
Bagi yang tidak  mampu mengerjakan salah satu dari ketiga kafarat ini, maka ia berkewajiban berpuasa selama tiga hari. Dalam pelaksanaan puasa kafarat ini, para fuqaha’ bebeda pendapat tentang cara pelaksanaannya, adakah harus berturut-turut ataukah boleh berselang-seli?
Ulama’ Hanafiah berpendapat harus berturut-turut, manakala Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah berpendapat para ulama’ mazhab Hanafi dan Hambali tentang disyaratkannya keberurutan tidaklah benar. Manakala Ulama’ Syafi’iah berpendapat tidak diharuskan berturut-turut, bahkan boleh dilakukan dengan terpisah. Dan itu pula yang dikatakan oleh Imam Malik.[9]
Diperbolehkan Melanggar Sumpah Untuk Kemaslahat
            Pada dasarnya, orang yang bersumpah harus menepati sumpahnya. Tapi, dia boleh tidak menepatinya apabila jika dipandang ada maslahat yang besar. Allah swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 224 yang bermaksud:
“Dan janganlah kamu jadikan nama Allah dalam sumpah kamu sebagai benteng yang menghalangi kamu daripada berbuat baik dan bertaqwa, serta mendamaikan perbalahan antara sesama manusia. dan (ingatlah), Allah sentiasa mendengar, lagi sentiasa mengetahui”
Maksudnya, janganlah kamu jadikan sumpah demi Allah sebagai penghalang bagimu dari berbuat kebajikan, ketakwaan, dan kemaslahatan.
Allah swt. berfirman:
Sesunggunhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebeskan diri dari sumpahmu…(At-Tahrim: 2)
Maksud ayat ini, Allah telah menetapkan bagi manusia pembebasan sumpah dengan memabayar kifarat jika meninggalkan sumpah jika sumpah itu lebih kepad a kemudharatan dan kemaksiatan kepada Allah swt.
Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kamu bersumpah atas sesuatu atas sesuatu lalu melihat sesuatu yang lain lebih baik darinya, maka kerjakanlah sesuatu yagn lebih baik darinya itu dan bayarlah kafarat atas sumpahnya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)
Secara kesimpulannya, umat Islam tidak digalakkan terlalu suka bersumpah dalam kehidupanya kerana ditakutkan akan membinasakan dirinya sendiri dan terjatuh ke dalam dosa-dosa besar. Huraian ini, diharapkan manambahkan sedikit sebanyak ilmu dan menjawab permasalah yang timbul di sekitar masyarakat kini.

Disediakan Oleh:
M. Faizal.


[1] Abdurrasyid Abdul Aziz Salim, Dr.,  Syarah Buluqhul Maram, penerjemah Achmad Sunarto, cet-1, (Surabaya: Halim Jaya Surabaya, 2001), Hlm. 857.
[2] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, Penerjemah Abdurrahim dan Masrukhin, jld-5, cet-1, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009), Hlm.126
[3] Ibid
[4] Muhammad ‘Ali As-Shobuni, Tafsir Ayat Ahkam, diterjemah Mu’ammal Hamidy dan Imron A. Manon, Dr., cet-1, (Surabaya: Pt. Bina Ilmu Offset, 2008), Hlm. 433-434
[5] [5] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah,…, Op cit,  Hlm. 139
[6] Ibnu Kathir, Shahih Tafsir Ibu Kathir, (Terj: Al-Misbahul Munir fi Tahdziibi Tafsiiiri Ibnu Kathir) cet-2, jil 3, (Bogor: Pustaka Ibnu Kathir, 2009), Hlm. 204
[7] Sayyid Sabiq, Fikih Sunna,…, Op cit,  Hlm. 141
[8] Ibnu Kathir, Shahih Tafsir Ibu Kathir,… Op cit, Hlm. 204
[9] Muhammad ‘Ali As-Shobuni, Tafsir Ayat Ahkam,…, Op cit, Hlm. 437

0 comments:

Catat Ulasan